Senin, 15 Juni 2009

Suatu ketika ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya, ia tampak sedih tanpa jari-jari yang lengkap tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar.

Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan, karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas.
Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu.

Sang roda pun berbalik arah dan kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam.

Semuanya tampak lain. padahal sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semuahal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa, namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah dan mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah harum dan semerbak, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya, kini semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa dan serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati pastilah banyak mengandung hikmah yang akan membuat kita semakin arif.

Masihkah kita harus hidup dalam ketergesaan, terburu-buru hanya demi sebuah kata “TARGET”, padahal di perjalanan waktu kita telah diberikan kesempatan oleh ALLAH Swt untuk berbuat yang terbaik, jika di tekuni akan sampai juga pada target yang kita impikan itu.

Bukan berarti memasang target menjadi tidak boleh, yang menjadi tidak boleh adalah sifat buru-buru, ketergesaan, cemas, panik yang semuanya adalah pekerjaan Syetan.

Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah berpesan dalam sebuah kitabnya :
“ Jika Sebuah pisang itu memang taqdirnya adalah milik kita walaupun berjuta orang yang mengelilinginya maka akan tetap menjadi milik kita, tetapi jika pun ada bertandan-tandan atau bersisir-sisir pisang jika taqdirnya bukan milik kita walaupun di sana hanya ada satu orang maka tidak akan sekali lagi tidak akan pernah kita miliki “

jika kita perumpamakan seperti seorang Pemuda kampung mengharap istrinya adalah orang yang cantik jelita, kaya raya, keturunan mulia untuk menjadi istrinya jika taqdir ALLAH telah menggariskan sang gadis adalah jodohnya walaupun di ujung kutub, dan berjuta-juta pemuda kaya, ganteng, berpendidikan tinggi mengharapkannya pula maka akan tetap menjadi jodoh sang pemuda kampung itu ( seperti cerita aladin ), tetapi jika sang gadis di taqdirkan ALLAH bukan menjadi jodohnya maka cara apapun, tetangga sebelah rumah sekalipun maka sang pemuda tidak akan dapat memilikinya.

ALLAH yang berkehendak atas semuanya...

Tidak ada komentar: